" />

Archive for September 28th, 2010

AKIBAT tekanan publik, para produsen elektronik, termasuk produsen ponsel, masing-masing mengklaim dirinya sebagai produsen yang ramah lingkungan. Namun demikian, kelompok pecinta lingkungan Greenpeace tidak percaya begitu saja terhadap klaim para produsen tersebut.

Karena itu, Greenpeace pun melontarkan tantangan kepada para produsen. Dalam tantangannya, Greenpeace mengundang para produsen elektronik untuk mengirimkan produk mereka yang paling ramah lingkungan kepada Greenpeace untuk diteliti apakah produk-produk tersebut benar-benar ramah lingkungan ataukah tidak. Greenpeace menunggu para produsen alat elektronik untuk mengirimkan produk hingga 20 Agustus 2010. Produk-produk yang akan dianalisis Greenpeace antara lain notebook, netbook, desktop, televisi, monitor, smartphone, dan ponsel. Greenpeace kemudian berjanji akan menerbitkan hasil penelitiannya.

“Para produsen boleh saja mengklaim dirinya sebagai produsen elektronik ramah lingkungan. Namun kami akan memeriksa kebenaran klaim tersebut. Jadi jangan lengah,” tutur International Toxics Campaigner Greenpeace Iza Kruszewska.

Di antara para produsen ponsel, Greenpeace menilai, produsen ponsel yang paling ramah lingkungan pada saat ini adalah Nokia Corp. Sebab, Greenpeace menjelaskan, Nokia mampu meraih skor 7,5, dari skor tertinggi 10,0 dalam penelitian Greenpeace. Greenpeace menjelaskan, Nokia mampu meraih skor sangat tinggi karena Nokia memiliki komitmen kuat dalam menghapus penggunaan kimia berbahaya dari produk-produknya. Di samping itu, Greenpeace menambahkan, Nokia juga memiliki komitmen besar untuk memangkas 30 persen emisi CO2 (karbon dioksida) hingga 2020.

Faktor lain yang melambungkan nilai Nokia, Greenpeace menjelaskan, adalah agresivitas Nokia dalam menggalakkan program daur ulang ponsel. Greenpeace mengamati, pada saat ini Nokia telah menyelenggarakan program daur ulang di 85 negara, dengan lebih dari 5.000 titik pengumpulan sampah elektronik berupa ponsel bekas dan aksesori yang tidak terpakai lagi. Setelah Nokia, Greenpeace mengungkapkan, produsen ponsel lain yang paling ramah lingkungan adalah Sony Ericsson Mobile Communications AB, yang meraih skor 6,9, dari skor tertinggi 10,0. Greenpeace menjelaskan,Sony Ericsson mampu meraih skor tinggi karena aktif mengapus penggunaan kimia berbahaya dari produk. Di samping itu, Greenpeace menambahkan, Sony Ericsson juga memiliki komitmen kuat dalam memangkas konsumsi energi. Namun demikian, Greenpeace menegaskan, Sony Ericsson tidak mampu meraih skor maksimum karena lemah dalam upaya daur ulang ponsel bekas.

Di bawah Sony Ericsson,Greenpeace mengungkapkan, produsen ponsel yang ramah lingkungan adalah Motorola Inc. Greenpeace menjelaskan, Motorola mampu meraih skor 5,1, dari skor maksimum 10,0. Greenpeace menuturkan, Motorola mampu meraih nilai relattif bagus pada penghapusan penggunaan kimia berbahaya. Namun begitu, Greenpeace menegaskan, Motorola ternyata kurang mendukung regulasi-regulasi penyelamatan kelestarian lingkungan hidup.Lebih dari itu,Motorola juga hanya mampu meraih nilai rendah dalam isu-isu daur ulang dan sampah elektronik. Tetapi terlepas dari segenap kekurangan Motorola,Greenpeace menyatakan, Motorola ternyata mampu meraih skor tinggi dalam upaya pemangkasan emisi CO2.

Sebab, sejak 1 November 2008 seluruh charger ponsel produksi Motorola susah memenuhi, atau bahkan melampaui, tuntutan standar lingkungan Energy Star v.2.0. Setelah Motorola, dalam penilaian Greenpeace,produsen ponsel yang juga terbilang ramah lingkungan adalah Apple Inc,yang meraih skor total 4,9, dari skor tertinggi 10,0. Greenpeace menjelaskan, Apple mampu meraih skor tinggi dalam penghapusan penggunaan kimia berbahaya dari produk- produknya. Namun demikian, Greenpeace menegaskan,Apple ternyata meraih skor sangat rendah dalam manajemen kimia. Lebih dari itu, Apple juga tidak memberikan dukungan terbuka terhadap sejumlah regulasi baru yang ditujukan untuk menyelamatkan lingkungan hidup dari risiko kerusakan akibat pembuangan sampah elektronik.

Satu peringkat di bawah Apple, produsen ponsel yang menurut Greenpeace sudah ramah lingkungan adalah LG Electronics Inc, yang meraih skor 4,7, dari skor tertinggi 10,0. Greenpeace menilai, LG mampu meraih skor cukup bagus karena sudah memasarkan ponsel yang bebas dari kimia berbahaya. Di samping itu, Greenpeace mengungkapkan, LG juga meraih skor tinggi dalam isu-isu sampah elektronik. Namun demikian, Greenpeace menyatakan,LG tidak mampu meraih skor lebih tinggi lagi karena LG membuat klaim palsu tentang efisiensi konsumsi energi sejumlah produknya yang dipasarkan di Amerika Serikat dan Australia. Tepat berada di bawah LG, Greenpeace mengungkapkan, Samsung Electronics Co Ltd meraih skor 3,7, dari skor tertinggi 10,0.

Greenpeace menjelaskan, Samsung meraih skor sedemikian rendah karena Samsung tidak berkomitmen kuat dalam menghapus penggunaan kimia berbahaya dari produk-produknya. Akan tetapi, Greenpeace menyatakan, Samsung lolos dari nilai terendah karena Samsung memiliki komitmen cukup kuat dalam memangkas emisi gas rumah kaca. Sebab, Greenpeace menyebutkan, Samsung mampu melipatgandakan produksi charger yang sesuai, dan bahkan melampaui, standar Energy Star v.2.0. (okezone.com/27 September 2010)

JAKARTA – Founder dan Chairwoman Mozilla, Mitchell Baker kunjungi Jakarta dalam rangka untuk melakukan temu ramah dengan media dan perwakilan pengguna Firefox di Indonesia.

Kunjungan yang dilakukan Mitchell Baker ini dalam rangka temu ramah dengan media serta perwakilan pengguna Firefox di Indonesia, mengingat Indonesia adalah negara pengguna browser
Firefox terbesar di dunia. Browser Firefox juga sangat sangat populer di Indonesia.

“Saya melakukan kunjungi resmi ke sini, selain karena Mozilla adalah browser yang sangat populer di Indonesia, tapi juga ingin berkenalan dengan teman-teman pengguna Firefox di sini,” ujar Mitchell Baker, seperti yang dikatakannya kepada okezone, Senin (27/9/2010).

Mitchell Baker mengatakan bahwa pengguna Mozilla Firefox urutan pertama di dunia adalah Indonesia, yang diikuti oleh Eropa dan Amerika Selatan di urutan ke dua. Amerika Serikat sendiri sebagai negara asal pembuat browser ini, hanya sedikit penggunanya; sekitar 24 persen saja. Ketika ditanya mengapa pengguna Firefox di AS sendiri justru rendah, Baker menjawab bahwa ia sendiri belum yakin apa yang menyebabkan hal itu terjadi.

Mozilla Firefox sendiri kata Baker akan terus memperbaharui produk mereka demi kebaikan konsumen. Produsen browser ini pun melakukan promosinya di Indonesia dengan cara yang berbeda, tidak seperti langkah yang biasa dilakukan oleh perusahaan internet lainnya, melakukan promosi secara gencar.

Mozilla Firefox versi Bahasa Indonesia pertama kali diluncurkan pada tahun 2008. Alasan mengapa meluncurkan browser ini dalam Bahasa Indonesia, Baker menyebutkan ada tiga alasan: pertama, semua orang harus mendapat akses ke internet. Kedua, Mozilla ingin semua orang terlibat di internet. Ketiga orang-orang dari Indonesia sendiri yang meminta untuk membuat sendiri mozilla dalam versi Bahasa Indonesia.

Sekitar 80 persen orang di Indonesia menggunakan Mozilla Firefox versi Bahasa Inggris, sementara 14 persen pengguna Mozilla Firefox di Indonesia menggunakan versi bahasa Inggris. (okezone.com/27 September 2010)